Selasa, 30 Oktober 2012

sinopsis unsur intrinsik unsur ekstrinsik resensi novel ketika cinta bertasbih


KETIKA CINTA BERTASBIH Part 1
  Data Publikasi
a.       Judul                              : Ketika Cinta Bertasbih 1
b.      Penulis                            : Habiburrahman El Shirazy
c.       Penerbit                         : Republika-Basmalah
d.      Tahun terbitan                : 2007
e.      Tebal                             : 477 halaman
Sinopsis Ketika Cinta Bertasbih 1:
Khairul Azzam adalah pemuda cerdas yang terlahir di sebuah desa di Jawa Tengah dan merupakan anak tertua dari empat bersaudara. Dari kecil Azzam sudah memiliki prestasi di sekolahnya, ia selalu mendapatkan juara pertama di kelasnya. Di tingkat Aliyah prestasi Azzam pun semakin gemilang. Berkat ketekunan dan kesungguhannya belajar ia mendapat beasiswa kuliah di Al-Azhar-Kairo.
Baru setahun di Kairo prestasi Azzam sangat membanggakan ayahnya bahkan ia memdapat nilai yang Jayyid Jiddan (lulus dengan sempurna), namun ajal tidak memandang siapa pun, ia datang kepada siapa saja yang telah digariskan tuhan. Itu pula yang terjad dengan ayah Azzam, setelah menempuh perkuliahan selama setahun ia mendapat berita bahwa ayahnya telah menghadap Sang Pencipta untuk selamanya.
Itulah awal dari menurunnya prestasi Azzam di kampus. Sebagai anak tertua Azzam mau tidak mau harus bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya, dikarenakan adiknya masih kecil-kecil. Sementara itu, dia sendiri harus menyelesaikan studinya di Negara orang. Akhirnya dia mulai membagi waktu untuk belajar dan mencari nafkah. Ia mulai membuat tempe dan bakso yang ia pasarkan di lingkungan KBRI di Kairo. Berkat keahlian dan keuletannya dalam memasak, Azzam menjadi populer dan dekat dengan kalangan staf KBRI di Cairo. Tapi hal itu berimbas pada kuliah Azzam, sudah 9 tahun berlalu, ia belum juga menyelesaikan kuliahnya.
Seringnya Azzam mendapatkan job di KBRI Kairo mempertemukan ia dengan Puteri Duta Besar, Eliana Pramesthi Alam. Eliana adalah lulusan EHESS Perancis yang melanjutkan S-2 nya di American University in Cairo. Selain cerdas, Eliana juga terkenal di kalangan mahasiswa karena kecantikannya. Ia bahkan pernah diminta main di salah satu film produksi Hollywood, juga untuk Film layar lebar dan Sinetron di Jakarta. Segudang prestasi dan juga kecantikan Eliana membuat Azzam menaruh hati pada Eliana. Tetapi Azzam urung menjalin hubungan lebih dekat dengan Eliana, karena selain sifat dan kehidupannya yang sedikit bertolak belakang dengan Azzam, juga karena nasihat dari Pak Ali, supir KBRI yang sangat dekat dengan keluarga Eliana.
Apa yang dikatakan Pak Ali cukup terngiang-ngiang di benaknya, bahwa ada seorang gadis yang lebih cocok untuk Azzam. Azzam disarankan untuk buru-buru mengkhitbah (melamar) seorang mahasiswa cantik yang tak kalah cerdasnya dengan Eliana. Dia bernama Anna Althafunnisa, S-1 dari Kuliyyatul Banaat di Alexandria dan sedang mengambil S-2 di Kuliyyatul Banaat Al Azhar – Cairo, yang juga menguasai bahasa Inggris, Arab dan Mandarin. menurut Pak Ali, kelebihan Anna dari Eliana adalah bahwa Anna memakai jilbab dan sholehah, bapaknya seorang Kiai Pesantren bernama Kiai Luthfi Hakim.
Ada keinginan Khaerul Azzam untuk menghkhitbah Anna walaupun ia belum pernah bertemu atau melihat Anna. Karena tidak punya biaya untuk pulang ke Indonesia, Pak Ali menyarankan supaya melamar lewat pamannya yang ada di Cairo, yaitu Ustadz Mujab, dimana Azzam sudah sangat mengenal ustadz itu. Dengan niat penuh dia pun datang ke ustadz Mujab untuk mengkhitbah Anna Althafunnisa. Tapi ternyata lamaran itu ditolak atas dasar status. Karena S-1 Azzam yang tidak juga selesai, dan lebih dikenal karena jualan tempe dan bakso. Selain itu, Anna telah dikhitbah lebih dulu oleh seorang pria yang alih-alih adalah Furqan, sahabat Azzam yang juga mahasiswa dari keluarga kaya yang juga cerdas di mana dalam waktu dekat akan menyelesaikan S-2 nya. Azzam bisa menerima alasan itu, meskipun hatinya cukup perih.
Tetapi kemudian Furqan mendapat musibah yang sangat menghancurkan harapan-harapan hidupnya. Hal tersebut membuatnya menghadapi dilemma antara ia harus tetap menikahi Anna yang telah dikhitbahnya, tetapi itu juga sekaligus akan dapat menghancurkan hidup Anna.
Sementara itu Ayyatul Husna, adik Azzam yang sering mengirim berita dari kampung, membawa kabar yang cukup meringankan hati Azzam. Agar Azzam tidak perlu lagi mengirim uang ke kampung dan lebih berkonsentrasi menyelesaikan kuliahnya. Karena selain Husna telah lulus kuliah di UNS, ia juga sudah bekerja sebagai Psikolog. Keahlian Husna dalam menulis sudah membuahkan hasil. Penghasilan Husna cukup dapat membiayai kebutuhan adiknya yang mengambil program D-3, serta adik bontotnya yang bernama Sarah yang masih mondok di Pesantren.
            Azzam yang sudah sangat rindu dengan keluarganya memutuskan untuk serius dalam belajar, hingga akhirnya berhasil lulus. Azzam pun menepati janjinya ke keluarganya untuk kembali ke kampung dan segera mencari jodoh di sana, memenuhi amanat ibunya. Walaupun sebenarnya masih terbersit sedikit harapan untuk tetap mendapatkan hati Anna.

Unsur Intrinsik:
1.Tema
Tema dalam novel ini adalah Perjuangan dan arti hidup untuk meraih kebahagiaan.
2.Latar 
a. Latar Tempat
Yang menjadi latar tempat dalam novel ini adalah di daerah kota Alexandria. Seperti Hotel Al Haram, tempat Azzam menginap sewaktu Kedutaan besar republik Indonesia mengadakan acara “pekan promosi wisata dan budaya Indonesia di Alexandria”. Acara makan malam di sebuah taman pantai El Muntazah, lobby hotel. Pantai Cleopatra dimana tempat Azzam dan Pak Ali berbincang-bincang menikmati udara pagi setelah shalat subuh. Toko buku di El Manshiya, dimana Azzam bertemu Furqan untuk kedua kalinya. Flat Azzam dan teman-temannya dari Indonesia di Hay El Asher. Masjid Ridhwan biasanya tempat Azzam menunaikan shalat subuh. Universitas Al Azhar. Meridien hotel, tempat Furqan menenangkan dirinya untuk fokus tesis. Pasar Sayyeda Zainab, dimana tempat biasa Azzam berbelanja peralatan bakso dan tempe. Flat Anna dan teman-temannya dari Indonesia di Abdur Rasul. Kantor mabahits tempat pertahanan dan keamanan, penjara dan rumah sakit. 
Seperti berikut gambaran di dalam ceritanya: “ia mengalihkan pandangannya jauh ketengah laut mediterania. Nan jauh di sana ia melihat tiga kapal yang tampak kecil dan hitam. Kapal-kapal itu ada yang sedang menuju Alexandria, ada juga yang sedang meninggalkan Alexandria…”. Selain itu juga diceritakan pula sebuah taman di Indonesia yaitu Taman Mini Indonesia indah, makam Bonoloyo di Solo, rumah Anna di pesantren Daarul Quran, serta rumah Azzam dan keluarga di Indonesia.
b. Latar Waktu
Latar waktu dalam cerita ini tidak dijelaskan secara langsung oleh pengarang, namun dapat ditarik kesimpulan cerita ini berlangsung ketika Azzam mulai menuntut ilmu pada jenjang perguruan tinggi di Universitas Al Azhar, Cairo. Sampai akhirnya ia harus bekerja keras untuk mempertahankan kuliahnya sampai selesai beserta keluarganya yang ada di Indonesia. Seperti petikan berikut: “Dan akan ia buka kembali saat nanti sudah pulang ke Indonesia. Setelah ia sudah selesai S1 dan adik-adiknya sudah bisa ia percaya mampu meraih masa depannya”. (hal.121)
“Padahal ia sudah sembilan tahun di Mesir. Ia sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Baginya, yang penting ia telah melakukan hal yang benar. Benar untuk dirinya, ibunya, adik-adiknya dan agamanya. (hal.212)
dalam novel ini adalah cinta islami.

3. Penokohan/perwatakan.
a. Abdullah Khairul Azzam
Seorang mahasiswa yang sederhana, kreatif, mampu menyelesaikan masalah, berani mengambil resiko, pantang menyerah dan berjiwa usaha yang tinggi. setiap ada peluang sedikit untuk melakukan manuver bisnis pasti dimanfaatkan secara baik tidak peduli resikonya tinggi, asal ada kemauan pasti ada jalan.
Selain itu Azzam merupakan kakak yang sangat peduli terhadap ibu dan adik - adiknya, walaupun mengorbankan kuliahnya untuk bekerja, Azzam bangga karena pada akhirnya dapat mengantarkan adik - adiknya menggapai cita - cita. Husna adiknya yang pertama berhasil menjadi psikolog dan penulis terbaik nasional. Lia adik keduanya lulus P GSD, dan menjadi guru favorit di SDIT Al Kautsar Solo. Dan adik bungsunya Sarah, hampir khatam Al Quran di Pesantren Al Quran di Kudus. Sosok seorang Azzam sebagai kakak mencerminkan betapa besarnya kasih sayang dan pengorbanan kepada adik -adiknya patut dijadikan contoh.
1. Kreatif
“Biarlah masyarakat Indonesia di Cairo tahunya saya adalah mahasiswa Al-Azhar yang tidak lulus-lulus karena lebih senang bisnis tempe, bakso, dan katering.” (hal.65)
2. Rajin
“Mungkin saat itu mas khairul sedang capek. Letih. Orang kalau letih itu bisa tidak jernih pikirannya. Cobalah ingat, kemarin ia kerja sejak pagi sampai malam.” (hal.105)
3. Tanggung jawab
“Allah belum mengizinkan aku menikah. Aku masih harus memperhatikan adik-adikku sampai ke gerbang masa depan yang jelas dan cerah”. (hal.121)
“ia langsung teringat akan tanggung jawabnya sebagai kakak tertua. Ia menangis. Ia merasakan betapa sayangnya Allah kepadanya. Allah masih ingin ia focus pada tanggung jawabnya membiayai adik-adiknya.” (hal.121) “aku sama sekali tak menyangka bahwa kau menghidupi adik-adikmu di Indonesia…” (hal.65)


4. Mandiri
“Saat itu ia sendiri sedang sangat memdrlukan datangnya sumber rejeki untuk mempertahankan hidupnya, dan juga adik-adiknya. Jadilah ia terjun total dalam bisnis membuat bakso.” (hal.224)
5. Penolong
“Baiklah, sekarang masalah Bantu membantu. Bukan bisnis. Saya ingin murni membantu, jadi saya tidak akan mengharapkan apapun dari mbak.” (hal.50)
“O, ya sudah. Semoga bisa dilacak.”sahut Azzam sambil menutup pintu taksi. Taksi perlahan bergerak. Pikiran Azzam juga bergerak bagaimana mendapatkan kembali kitab itu.”(hal.197)
6. Soleh
“Ia membenarkan tindakannya itu dengan berpikir bahwa datangnya azan yang memanggilnya itu lebih dulu dari datangnya dering telpon itu. Dan dia harus mendahulukan yang datang lebih dulu.” (hal.45)
7. Cerdas
“Ia adalah prototype anak Indonesia yang pintar, cerdas, dan bersahaja, namun lahir dari kalangan keluarga pas-pasan; jadi, sangat khas Indonesia! Kecerdasan azzam kian terbukti tatkala ditahun pertama menimba ilmu di Al-Azhar ia memperoleh predikat jayyid jiddan(istimewa), dan oleh karenanya ia mendapat beasiswa dari majlis A’la.”

b. Eliana Pramesthi Alam
Seorang putri tunggal dari duta besar negara Indonesia yang berada di Mesir, keberadaannya disana untuk menemani kedua orangtuanya serta melanjutkan S2 nya di American University in Cairo (AUC). Berwatak keras, sombong, ketus, dan egois. Gadis yang bersuara merdu, fostur tubuh yang indah dan cantik ini juga dianugrahi sosok yang cerdas, pintar, suka debat dan sangat gemar menulis opini dalam bahasa inggris sehingga banyak meraih berbagai macam prestasi. Eliana yang lama tinggal di Paris membuat kehidupannya jauh berbeda dengan wanita-wanita Indonesia yang mengambil studi di Cairo. Kesabaran dan kesalihan Azzam mampu meredup keangkuhan Eliana dengan menjelaskan kembali beberapa nilai agama yang selama ini dianggap remeh dan dilalaikan oleh Eliana.
1. Cantik
“Wajahnya yang putih dengan mata yang bulat jernih memancarkan pesona yang mampu menghangatkan aliran darah setiap pemuda yang menatapnya.” (hal.46)

2. Pintar
“Tulisannya rapi, runtut, berkarakter, tajam dan kuat datanya. Orang dengan pengetahuan memadai, akan menilai tulisannya merupakan perpaduan pandangan seorang jurnalis, sastrawan dan diplomat ulung.” (hal.36) 
3. Emosi
“ia memang orang yang mudah emosi jika ada sedikit saja hal yang tidak sesuai dengan suasana hatinya.” (hal.95)
4. Peremeh
“Ah shalat itu gampang! Yang penting ini. Ada tugas penting untuk mas khairul malam ini. Tugas terakhir. Aku janji!” sahut Eliana nerocos tanpa rasa dosa karena menggampangkan shalat.” (hal.46)

c. Anna Althafunnisa
Mahasiswi Indonesia yang menempuh kuliah S2 di Cairo. Dari keluarga kiyai terhormat di Klaten. Anna memiliki watak sederhana dan sedikit tertutup. Prestasi yang diraih Anna tidak sedikit dari kecil, sampai kuliah di Kuliyyatul Banat al-Azhar ia pun sering menulis dimajalah salah satunya Al Wa’yu Al Islami, banyak artikel yang dia muat di sana. Anna yang telah menikah dengan Furqan dan belum pernah dinafkahi batinnya sama sekali membuat furqan harus jujur bahwa ia divonis penyakit AIDS meskipun sesungguhnya itu negatif. Akhirnya Anna bercerai dari Furqan dan menikah dengan Azzam yang telah lama mengidamkan sosoknya.
1. Pintar
“Anna adalah bintangnya pesantren Daarul Quran. Sejak kecil ia menghiasi dirinya dengan prestasi dan prestasi selain dengan akhlak mulia tentunya. Ia menyelesaikan S1-nya di Alexandria dengan predikat mumtaz.” (hal.120)
2. Solehah
“Kalau kamu mendapatkan Ana, kamu telah mendapatkan surga sebelum surga.” (hal.91)
3. Sederhana
“Dan Ana lebih memilih menutup diri dari kegiatan-kegiatan yang bersifat glamour.” (hal.91)
4. Santun
“Anna menunggu Bu Nafis sampai beranda. Begitu bu Nafis mendekat Anna langsung meraih tangan perempuan setengah baya itu dan menciumnya penuh rasa ta’zim.” (hal.89)
5. Cantik
“Kedua matanya yang sedikit merah mengguratkan kelelahan. Namun sama sekali tidak mengurangi pesona kecantikannya.” (hal.252)

d. Furqan
Seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan Magister di al-al-Azhar Cairo. Ia berasal dari keluarga kaya. Salah satu anak konglomerat di Jakarta, sehingga kuliahnya berjalan lurus dan cepat diselesaikan tanpa hambatan. Tokoh Furqan ditampilkan istimewa karena selain materi yang dia punya, penampilan ia juga menarik. Wataknya yang tidak sombong dan baik hati membuat dia bisa berteman dengan siapa saja. Kelalaian pun membuat Furqan terjebak dalam sebuah masalah yang mana akhirnya dia harus bercerai dari Anna, dan akhirnya menjalin hubungan dengan Eliana yang telah berubah menjadi muslimah.
1. Ramah
“Setelah berpelukan, Furqan mengajak Azzam menemani makan roti kibdah disamping sebuah masjid tua sambil berbincang-bincang.” (hal.106)
2. Glamour
“Furqan langsung merasakan kesejukan dan kemewahan kamarnya. Kemewahan Eropa kontemporer hasil perkawinan arsitektur Italia dan turki modern.” (hal.155)
3. Intelek
“Furqan lebih dikenal sebagai intelek muda yang sering diminta menjadi nara sumber di pelbagai kelompok kajian…..” (hal.61)
4. Ceroboh
“Ini teguran dari Allah atas cara hidupmu yang menurutku sudah tidak wajar sebagai seorang penuntut ilmu.” (hal.289)

D. Alur
Cara yang digunakan dalam cerita ini adalah alur progresif, yaitu jalan cerita atau peristiwa yang diceritakan bersifat kronologis, atau secara runtut cerita dimulai dari tahap awal (penyituasian, pengenalan, pemuuk membuat jamuan makanan khas Indonesia pun sangat mengagumi sosok Azzam.
Dilanjutkan dengan tahap tengah Azzam yang mengidamkan seorang wanita solehah bernama Anna pun harus direlakan untuk sahabatnya. Furqan yang telah mengenal Anna terlebih dahulu ternyata menaruh perhatian juga terhadapat Eliana. Karena sebab inilah yang membuat Furqan menjadi bingung, akan tetapi Furqan telah melamar Anna melalui pamannya ust.Mujab. Azzam dengan kekurangannya pun tak berdaya menghadapi percintaan ini. Hanya dengan kebesaran dan doa kepada Allahlah ia serahkan. 
Klimaks dari cerita ini, dengan pertimbangan xang lama akhirnya Anna menerima lamaran Furqan. Furqan yang terjebak dalam musibah pemerasan, dan divonis terkena AIDS harus merahasiakan semua ini pada Anna. Pernikahan Anna dan Furqan tidak pernah bahagia. Perceraian pun harus dialami oleh Anna dan Furqan.
Tahap akhir dikisahkan melalui Husna, adik Azzam di Indonesia. Terjadilah pertemuan antara Azzam dan Anna. Anna yang pernah sekilas mengenal Azzam di Cairo, sesungguhnya menaruh perhatian khusus. hanya saja pertemuan itu sangatlah singkat. Diakhiri dengan Anna yang telah bercerai dari Furqan dan belum pernah mendapat nafkah batin dari mantan suaminya pun mendapat restu dari kedua orang tuanya untuk menikah dengan Azzam. Furqan dipertemukan kembali dengan Eliana yang telah berubah menjadi muslimah, dan semua vonis tentang penyakit AIDS itu ternyata tidak benar.
(munculan konflik), tengah (konflik meningkat, klimaks), dan akhir (penyelesaian).

5.  sudut pandang
Sudut pandang orang ketiga

6.Gaya Bahasa
Gaya bahasa denotasi. Namun banyak ditemui beberapa gaya bahasa dalam cerita ini. Diantaranya gaya bahasa simile seperti ungkapan “gadis itu adalah kilau matahari di musim semi”. Metafora seperti ungkapan “ia menjadi buah bibir dikalangan mahasiswa dan masyarakat Mesir”. 
Banyak pula terdapat ungkapan bahasa asing seperti bahasa arab “anta ya Azzam kaif hal? ”ana bi khair. Alhamdulillah. Andak ful shoya? “thob’an ‘andi. “aisy kam kilo?”khomsah wa’isyrin kilo kal ‘adah.” Bahasa inggris “good afternoon sir, can I help u”. Bahasa jawa “sir, ojo lali yo. Ojo kok ke neng kene. Ora tak ijini! Wis aku tak turu ndisik!”.
Pengarang banyak mengutip ayat al quran, hadits, doa nabi, dan pepatah dari seorang penyair. Al quran “tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, agar diperhatikan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi setiap orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur”. Hadits “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan”. Doa nabi Yunus “la ila ha illa anta, subhanaka inni kuntu minadzalimin”. Pepatah dari seorang penyair seperti james Allen. Ungkapan dan untaian kata dari seorang tokoh dan dari kitab-kitab ilmiah seperti kaya ibnu Athaillah As Sakandari. Selain itu terdapat bahasa yang diungkapkan melalui surat seperti surat Tiara untuk Fadhil, dan surat Husna untuk kakaknya Azzam dan ungkapan lewat sms.

7. Amanat
• Terkadang cinta tidak harus memiliki
• Kesempatan harus dimanfaatkan sebaik mungkin, tidak perlu takut akan resiko.                                                                                                     Karena resiko membuat kita lebih matang untuk melangkah maju.
• Setiap ada kemauan, pasti ada jalan.
• Sesama muslim adalah saudara, yang saling peduli.
• Sayangilah dirimu, beri ia kesempatan untuk menjadi yang semestinya ia
inginkan.
• Pilihan itu ada, namun tergantung siap atau tidak kita menanggung resiko dari pilihan yang kita itu.
• Teguh pendirian, rela berkorban adalah kunci sukses masa depan.
• Lebih baik diam, daripada berbicara yang tidak perlu.
• Buah pengorbanan lebih berharga daripada sesuatu yang dengan mudah di dapat tanpa pengorbanan.
• Cinta yang haqiqih adalah cinta yang berdasarkan pilihan hati, bukan hanya karena nafsu ingin memiliki.

Unsur Ekstrinsik:
1.     Biografi Pengarang
Habiburrahman el-Shirazy (lahir di Semarang 30 September 1976) adalah sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dikenal sebagai dai, novelis, penyair, dan suami dari Muyasaratun Sa’idah. Memulai pendidikannya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak. Tahun 1992 ia merantau ke Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai Tahun 1999. Tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma S2 di The Institute for Islamic Studies, Kairo.
          Selama di Kairo, ia telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul, Membaca Insanniyah al Islam dimuat dalam buku Wacana Islam Universal (1998). Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (2002), Menyucikan Jiwa (2005), Rihlah ilallah (2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (2001), Merah di Jenin (2002), Ketika Cinta Menemukanmu (2004), dll.
         Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Diantara karya-karyanya yang telah beredar dipasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (2004), Di Atas Sajadah Cinta (2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007) dan Dalam Mihrab Cinta (2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem. (disadur dari Wikipedia.com)

2.     Latar Belakang Sejarah dan Sosial
              Habiburrahman el-Shirazy, menulis cerita berdasarkan pengalaman hidupnya yang pernah bersekolah di Universitas Al Azhar, Mesir. Selain sebagai media dakwahnya, novel ini juga mencakup banyak cerita yang menggambarkan hidup seorang lelaki Indonesia. Sebagai contoh, novelnya yang lain yaitu Ayat-ayat Cinta. Dan dari segi ekonominya, pengarang tergolong menengah ke atas dilihat dari latar petualangan pendidikannya, mulai dari pendidikan menengah di MTs Futuhiyyah 1 hingga S2 di The Institute for Islamic Studies Kairo.

RESENSI KETIKA CINTA BERTASBIH 1

1.       Data Publikasi

a.  Judul                       : Ketika Cinta Bertasbih 1
b   Penulis                    : Habiburrahman El Shirazy
c.  Penerbit                  : Republika-Basmalah
d. Tahun terbit                        : 2007
e.  Tebal                       : 477 halaman
f.  Tema                       : Perjuangan dan arti hidup untuk meraihkebahagiaan.

2.       Kunggulan

Novel ini menghadirkan kisah percintaan bukan sekedar terhadap lawan jenis tapi jauh mengungkapkan kecintaan terhadap Allah. Merupakan salah satu novel pembangun jiwa yang penuh akan makna. Gaya bahasa yang ringan dan alur cerita yang mudah dimengerti membuat pembaca seakandapat melihat apa yang ingin diperlihatkan penulis novel. Sarat akan pengetahuan. Kata-katanya santun dan mudah di pahami. Kertas novel menggunakan kertas quarto yang bagus dan bersih. Perwatakan tokoh mudah dimengerti, dan di gambarkan jelas.


3.       Kelemahan

 Untuk novel dengan pengarang yang sama dan konsep yang sama pula, latar yang dipilihkurang variatif.

4.       Pendapat Akhir

Novel percintaan yang satu ini pantas di baca oleh siapa saja. Sesuai dengan konsepnya, yaitu novel pembangun jiwa, novel ini dapat memberikan semangat pada jiwa untuk lebih bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT. selain itu, novel ini penuh dengan ilmu pengetahuan yang akan memperluas wawasan kita terhadap dunia.

1 komentar: